Rabu, 12 Oktober 2011

Destilasi uap air

I.                  Definisi    

Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik pemisahan kimia yang berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya.
Destilasi uap adalah istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air ke dalam campuran sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap pada temperatur yang lebih rendah dari pada dengan pemanasan langsung. Untuk destilasi uap, labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan dihubungkan dengan labu pembangkit uap (lihat gambar alat destilasi uap).
Uap air yang dialirkan ke dalam labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan, dimaksudkan untuk menurunkan titik didih senyawa tersebut, karena titik didih suatu campuran lebih rendah dari pada titik didih komponen-komponennya.
Destilator terdiri dari thermometer, labu didih, steel head, pemanas, kondensor, dan labu penampung destilat yang memiliki fungsi tertentu


II.               Sampel/simplisia
Lemon suwangi (jeruk purut)


Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
 Sub Kelas: Rosidae
 Ordo: Sapindales
 Famili:
Rutaceae (suku jeruk-jerukan)
 Genus:
Citrus
 Spesies: Citrus hystrix Dc

Jeruk purut (Citrus hystrix)  merupakan tanaman yang termasuk dalam familia Rutaceae yang dapat hidup di dataran rendah ataupun pegunungan.


Morfologi
1.      Akar (Radix)
Sistem perakaran tanaman jeruk ialah tunggang. Merupakan sistem akar tunggang sebab akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang–cabang menjadi akar–akar yang lebih kecil. Akar tunggangnya bercabang.
2.      Batang (Caulis)
Bagian batangnya bengkok atau bersudut, agak kecil, bercabang rendah tajuknya tidak beraturan, cabang – cabangnya rapat, dahan – dahannya kecil dan bersudut tajam, yang lebih tua bulat, bewarna hijau tua, polos, berbintik – bintik di ketiak daun. Durinya pendek kaku, berbentuk seperti cundrik, berwarna hitam, ujungya berwarna coklat dan panjangya 0,2 – 1 cm (Anonim, 1994).
Arah tumbuh batang tegak lurus (erectus), percabangannya monopodial. Merupakan batang berkayu (lignosus) dengan bentuk bulat.
3.      Daun (Folium)
Daun jeruk purut ini terpencar atau silih berganti, bertangkai, berdaun satu, bentuknya bulat telur, ujungnya tumpul, berbau sedap, berwarna hijau kuning,. Tangkai daun bersayap lebar, hampir menyerupai daun, berwarna hijau kuning (Anonim , 1994).
Permukaan helaian  daun  licin (laevis) dan mengkilap (nitidus), dagingnya tipis seperti kertas (papyraceus). Permukaan daun yang atas warna hijaunya lebih tua dan licin sedangkan bagian bawah warnanya agak kekuningan.bagian tepi jeruk purut ini rata (integer).




Alat perkembangbiakan
  1. Bunga (flos)
Pada umumnya bunga jeruk bewarna putih, kecuali jeruk nipis dan jeruk purut bunganya agak bewarna ungu sampai merah. Bunga jeruk keluar dari ketiak daun atau pucuk ranting yang masih muda, berbau harum dan banyak mengandung nectar atau kelenjar madu (Soelarso, 2000).  Bunga jeruk purut majemuk, terletak pada ketiak daun atau pada ujung tangkai, berbau sedap. Tajuk bunga 4–5 lembar bulat panjang, benangsari 24–30, pada kakinya membesar ujungnya runcing (Anonim,2000)                                                                                                        
Pada dasar bunga seringkali terdapat semacam peninggian atau bantalan berbentuk cakram yang seringkali mempunyai kelenjar madu, misal pada Citrus sp. Kelenjar madu seperti di atas bakal buah dan melingkari tangkai kepala putik dinamakan Thalamiflorae. Pada benangsari kepala putik bulat, jelas duduk pada dasar bunga (Tjitrosoepomo, 2003).
2.      Buah (fruktus)
Bakal buah menumpang, bentuknya bulat dan bulat pendekatau elips. Buah jeruk tergolong buah sejati, tunggal dan berdaging. Oleh karena itu buah yang masak, tidak pecah. Satu bunga menjadi satu bakal buah saja. Dinding kulit tebal dengan lapisan yang kak, bau menyengat dan mengandung minyak atsiri. Lapisan ini disebut flavedo., bewarna hijau dan bisa  masak bewarna kuning atau jingga.Lapisan tengah seperti spon yanng terdiri atas jaringan bunga karang bewarna putih disebut albedo, sedangkan lapisan dalm bersekat membentuk ruang (Soelarso, 2000).Buah jeruk (hesperidium), buah ini dapat pula disebut buah buni (Tjitrosoepomo, 2003)
3. Biji (semen)
Jeruk purut dalam tiap ruangnya, bentuknya bewarna kuning keputihan. Apabila dibelah secara melintang dapt terlihat terbentuknya ruangan yang ada bijinya dan sekat – sekat yang memisahkan.                                                                                                                                          Biji jeruk mengalami poliembrioni, jika dari satu biji yang berkecambah kemudian muncul lebih dari satu tumbuhan baru.
Isi kandungan dan khasiatnya
kandungan Kimia Daun mengandung tanin 1,8%, steroid triterpenoid dan minyak asiri 1-1,5% v/b
Kulit buah mengandung saponin, tanin 1%, steroid triterpenoid dan minyak asiri yang mengandung sitrat 2-2,5% v/b.                                                                                               
Sifat dan Khasiat Daun jeruk purut berkhasiat stimulandan penyegar. Kulit buah berkhasiat stimulan, berbau khas aromatik, rasanya agak asin, kelat dan lama kelamaanagak pahit.
Bagian yang digunakan adalah buah dan daun.
Buah jeruk purut digunakan untuk mengatasi: Influenza, Badan terasa lelah, Rambut kepala yang bau (mewangikan kulit) dan Kulit bersisik dan mengalupas
Daun jeruk purut digunakan untuk mengatasi: Badan letih dan lemah sehabis sakit berat. Beberapa wewangian juga memakai minyak jeruk purut (diperoleh dari daun atau kulit buahnya) sebagai komponennya. Karakteristik minyak daunnya terutama didominasi oleh
minyak atsiri (-)-(S)-citronelal (80%), sisanya adalah citronelol (10%), nerol dan limonena. Jeruk purut adalah istimewa karena pada jeruk-jeruk lainnya yang mendominasi adalah enantiomernya, (+)-(R)-citronelal (juga dapat ditemukan pada serai). Kulit buahnya memiliki komponen yang serupa dengan kulit buah jeruk nipis, dengan komponen utama adalah limonena dan β-pinena.


III.           Proses Destilasi
Cara melakukan destilasi uap:

Susunlah alat-alat destilasi uap seperti gambar di atas. Gunakan labu dasar rata 1 liter sebagai pembangkit uap dan labu dasar bulat 250 mL sebagai labu destilasi serta pendingin air (pendingin Leibig) yang panjangnya 60-70 cm. Yakinkan semua alat tertutup dan berhubungan dengan erat. Masukan zat sampel ke dalam labu 250 mL. Jika sudah siap panaskan labu pembangkit uap secara perlahan-lahan sampai mendidih kemudian gunakan api yang besar sehingga uapnya masuk ke dalam labu yang mengandung zat sampel. Hentikan destilasi jika semua zat sampel telah terpisah dan tertampung dalam labu erlenmeyer sebagai penampung destilat. Masukan destilat ke dalam corong pisah, selanjutnya pisahkan zat sampel dari cairan pengotornya.
Perhatian:
Dalam destilasi uap kadang-kadang digunakan zat-zat padat, oleh karena itu bahan mungkin memadat dalam pendingin. Perhatikan secara hati-hati dan hindarkan pembentukan massa kristal yang akan menghambat tabung, kemudian hentikan sebentar pengaliran air melalui pendingin dan keluarkan air yang ada dalam pendingin. Uap panas akan meleburkan kristal dan hambatan akan hilang. Setelah hambatan hilang, segeralah alirkan kembali air ke dalam pendingin.
Jika dalam destilasi uap dari labu yang mengandung zat tidak mau mengalir maka labu tersebut dapat dipanaskan dengan menggunakan api yang lebih kecil dari api pada pemanasan labu pembangkit uap.




Pelarut
pelarut yang umum digunakan dalam proses ekstraksi biasanya adalah pelarut organik yang bersifat non polar maupun semipolar. biasa yang digunakan adalah toluen, kloroform, heksana, heptana, dll. tergantung kepolaran senyawa yang ingin kita ekstraksi.yang harus diperhatikan dalam pemilihan pelarut untuk ekstraksi biasanya adalah tingkat kepolarannya, dimana sesuai
dengan senyawa yang akan kita ekstraksi, terus tingkat toksitisitasnya, efisiensinya dan harga dari pelarut tersebut.
Pelarut yang baik untuk ekstraksi adalah pelarut yang mempunyai daya melarutkan yang tinggi terhadap zat yang diekstraksi. Daya melarutkan yang tinggi ini berhubungan dengan kepolaran pelarut dan kepolaran senyawa yang diekstraksi. Terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa polar larut dalam pelarut polar dan sebaliknya.

IV.           Daftar pustaka













Tidak ada komentar:

Posting Komentar